tag:blogger.com,1999:blog-321511632009-02-21T04:10:32.572-08:00Culture Society and CivilizationHeru Susetyo Blogshttp://www.blogger.com/profile/06846073363696882368noreply@blogger.comBlogger12125tag:blogger.com,1999:blog-32151163.post-1157946181722742942006-09-10T20:31:00.000-07:002006-09-10T20:43:01.733-07:00Please Switch off your Cell PhoneMenggunakan cellphone di Jepang cukup strict batasannya. Disini orang tak leluasa membeli handphone kecuali dia memiliki ID card dan memiliki permanent address. Ada UU per April 2006 yang mewajibkan setiap pengguna handphone supaya te-register di operator-nya. Apakah vodafone, AU-Kddi, or NTT do-co-mo. Tapi gak sekedar itu, menggunakan handphone-pun tak bebas. Dilarang menggunakan handphone ketika nyetir (mungkin ini sudah biasa dimana-mana). Tapi yang agak langka adalah dilarang menerima dan mengkontak orang via handphone di public transportation, utamanya di densha (train) ataupun chikatetsu (subway) or basu (bas). Peraturan utama adalah mode harus di set jadi off atau minimal silent. Bahkan kalau di dekat priority seats (untuk children, oba-san, disable people, elderly, dll) harus dimatikan total. Saya lihat betul, bagaimana alergi-nya orang Jepang dengan orang yang berbicara via handphone dalam kereta. Dalam perjalanan densha dari Osaka ke Nara, seorang pria Jepang tua menerima handphone dan berbicara sekian menit. Seorang Ibu yang duduk di sebelahnya mendadak berdiri dan pindah ke kursi lain yang jauh dari pria tersebut. Lalu, ia pun meneruskan bacaannya. Kirim SMS? Oke, tapi dalam kasus yang lain juga gak OK. Ada juga orang yang marah kalau orang berkirim SMS dalam kereta...<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32151163-115794618172274294?l=heru-susetyo.blogspot.com'/></div>Heru Susetyo Blogshttp://www.blogger.com/profile/06846073363696882368noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-32151163.post-1157441815420797972006-09-05T00:13:00.001-07:002006-09-05T00:36:55.426-07:00CLEAN UP YOUR TRASH !Ini manajemen kebersamaan dalam makan namanya. Di cafe medical faculty di Kyoto University, setiap habis makan sang pelanggan harus ikut mencuci piring, gelas, mangkok, membuang sumpit dan bekas tissue yang digunakannya di tempat tersendiri. Tidak harus mencuci sampai bersih sih, tapi at least bagian2 sisa makan dibersihkan dengan air yang telah disediakan baru dicemplungkan ke dalam bak air dimana telah menunggu sang pencuci beneran.<br /><br />Tapi tidak semua cafe seperti ini, di cafe co-op Kyoto Dai di Yoshida Campus dan di cafe co-op Uji campus kita hanya mengembalikan tray kita ke rak berjalan yang telah disediakan setelah sebelumnya membuang hashi (sumpit) dan kertas tissue. Menarik untuk diterapkan di Indonesia, membuat orang lebih egaliter namun resikonya ada lowongan pekerjaan semakin berkurang...<br />wallahua'lam<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32151163-115744181542079797?l=heru-susetyo.blogspot.com'/></div>Heru Susetyo Blogshttp://www.blogger.com/profile/06846073363696882368noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-32151163.post-1157440781405689412006-09-05T00:13:00.000-07:002006-09-05T00:19:41.416-07:00Bekerja Serius Kendati Tampak SepeleSatu hal yang patut dicontoh dari orang Jepang adalah keseriusannya dalam bekerja. Walaupun pekerjaannya nampak sepele namun tetap saja dia serius dan terkesan menikmati pekerjaannya. Tukang sampah di asrama saya sedari pagi sudah sibuk mengangkut sampah dengan serius, ibu yg jaga asrama juga selalu berkutat di balik laptopnya, ibu yang jaga masjid (muslimah Jepang) juga selalu nampak sibuk dengan laptop, telpon, dan melayani pembeli makanan di warung masjid. Di kereta, masinis nampak serius dan sibuk. Penjaga loket serius. Sopir bus juga serius. Mbak-mbak yang jaga museum juga para volunteernya juga tampak serius. Mereka selalu sigap menjawab pertanyaan pengunjung, tamu, pelanggan apakah dengan i<span style="font-style: italic;">rrashaimase, onegaishimasu</span> dan selalu menutup dengan <span style="font-style: italic;">domo arigato gozaimashita</span>. Salah satu tanda keseriusan juga adalah pada busana yang dipakai. Hampir semua pekerja mempunyai uniform sendiri. Di museum gempa Kobe mbak-mbaknya pakai uniform, di Kyoto Disaster Prevention Center malah menggunakan topi plus syal kayak pramugari/ pemandu wisata. Niat banget deh !<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32151163-115744078140568941?l=heru-susetyo.blogspot.com'/></div>Heru Susetyo Blogshttp://www.blogger.com/profile/06846073363696882368noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-32151163.post-1157439595296875852006-09-04T23:52:00.000-07:002006-09-04T23:59:55.306-07:00CLEAN UP YOUR TRASH !Ini manajemen kebersamaan dalam makan namanya. Di cafe medical faculty di Kyoto University, setiap habis makan sang pelanggan harus ikut mencuci piring, gelas, mangkok, membuang sumpit dan bekas tissue yang digunakannya di tempat tersendiri. Tidak harus mencuci sampai bersih sih, tapi at least bagian2 sisa makan dibersihkan dengan air yang telah disediakan baru dicemplungkan ke dalam bak air dimana telah menunggu sang pencuci beneran. <br /><br />Tapi tidak semua cafe seperti ini, di cafe co-op Kyoto Dai di Yoshida Campus dan di cafe co-op Uji campus kita hanya mengembalikan tray kita ke rak berjalan yang telah disediakan setelah sebelumnya membuang hashi (sumpit) dan kertas tissue. Menarik untuk diterapkan di Indonesia, membuat orang lebih egaliter namun resikonya ada lowongan pekerjaan semakin berkurang...<br />wallahua'lam<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32151163-115743959529687585?l=heru-susetyo.blogspot.com'/></div>Heru Susetyo Blogshttp://www.blogger.com/profile/06846073363696882368noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-32151163.post-1157333071221791582006-09-03T18:17:00.000-07:002006-09-03T18:24:31.236-07:00Ketika Agama Cuma Jadi MainanAgama di Jepang cenderung cuma jadi mainan dan tak pernah dianggap sesuatu yang serius. Jangan kata lagi untuk menyembah Tuhan yang satu, mengakui adanya Tuhan juga masih jadi persoalan disini. Ada yang percaya Tuhan tapi tak punya agama. Ada yang punya agama tapi sekedar simbol. Banyak juga yang tak percaya Tuhan sekaligus tak punya agama.<br />Maka, ketika melihat wanita Jepang menggunakan kalung salib, jangan dianggap dia seorang Christian. Ketika ia merayakan Christmas jangan dianggap dia Kristiani. Karena natalan disini lebih cenderung selebrasi kultural biasa. Biasanya masyarakat Jepang ketika lahir dan anak2 mengikuti ritual ala Shinto, ketika menikah cenderung ala Christian (pertimbangan ekonomis, karena nikah ala Shinto mahal), dan ketika meninggal memilih dikremasi ala Buddhist. So, orang bisa tidak punya agama bisa juga beragama banyak. Terserah.<br />Tak jelas juga apa mereka mengenal konsep dosa, surga ataupun neraka.<br />Tapi insya Allah tidak bisa digeneralisir juga. Ada juga orang Jepang yang beragama secara baik. Walaupun tidak mayoritas.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32151163-115733307122179158?l=heru-susetyo.blogspot.com'/></div>Heru Susetyo Blogshttp://www.blogger.com/profile/06846073363696882368noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-32151163.post-1156938834848001092006-08-30T04:25:00.000-07:002006-08-30T04:53:54.856-07:00Kebersihan dan Manajemen PersampahanPernah lihat gundukan sampah yang menjijikkan di jalan-jalan kota Bandung pertengahan tahun ini? Insya Allah pemandangan demikian takkan terjadi di Jepang. Kebersihan adalah bagian dari kultur dan bagian dari obsesi masyarakat Jepang. Jangan kata lagi sampah, seorang teman Jepang saya di Tokyo cerita kalau dia gak berani mandi dan ke wastafel, dan sulit tidur gara-gara di wastafel-nya ada kecoa mati! gitu doang. Mungkin kalau ke Indo dia bisa 'nightmare' terus karena ketemu kecoa dimana-mana.<br />Ajaibnya, di Kyoto juga tak diketemukan nyamuk dan lalat sebijipun. Padahal disini sedang summer (natsu). Kenapa ya?<br />Yang ajaib berikutnya adalah manajemen persampahan di sini. Dari segi jumlah penduduk Jepang cukup dahsyat dengan nyaris 130 jt tinggal di empat pulau besar yang jauh lebih sempit dari Indonesia. Tapi kenapa negeri ini bersih abis? jauh lebih bersih dari Amrik atau Inggris? Ternyata manajemen persampahannya yang mantap. Setiap orang bertanggungjawab atas sampahnya masing-masing. So watch out your rubbish and dump them properly ! Sampah dibagi atas burnable dan non burnable, lalu ada sampah cans, bottle non cans/ plastik boo, dan lain-lain. Sampah elektronik lain lagi. Bisa mahal kalau buang TV apalagi mobil. Hampir di semua restoran publik, para pengunjung yg makan mesti mengembalikan dan membersihkan sendiri trash-nya. Sampah rumah tangga juga. Apalagi di tempat-tempat fasilitas pemerintah. Kalau gak disediakan tempat sampah berarti you're responsible dan mesti tanggung jawab untuk membawa sampah tersebut. Kalau gak, anda berarti bukan good man...<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32151163-115693883484800109?l=heru-susetyo.blogspot.com'/></div>Heru Susetyo Blogshttp://www.blogger.com/profile/06846073363696882368noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-32151163.post-1156937063129621082006-08-30T04:15:00.000-07:002006-08-30T04:24:23.143-07:00Onegai shimasu dan Onegai simbakIni satu guyonan ala Indonesia, bagaimana bahasa sering menjadi olok-olokkan ketika dibentukan dengan bahasa yang lain. Contoh, kata-kata 'onegai shimasu' dalam bahasa Jepang berarti 'tolong' atau 'please' (bisa juga menggunakan kata 'kudasai'.) Seorang teman Indonesia di Uji Kampus mengatakan bahwa 'onegai shimasu' yang dibaca 'onegai simas' tak bisa digunakan untuk bicara dengan perempuan. Kenapa? tanya saya serius. Karena kalau kita bicara dengan perempuan bahasa yang lebih tepat adalah : onegai shimbak...<br />walah-walah, ini mah Javanese bukannya Japanese...<br /><br />satu lagi yang menarik, bagaimana ada sedikit kesamaan (pengaruh) antara bahasa Arab dengan bahasa Jepang. Contoh, bahasa Jepang untuk 'kamu' adalah 'anata' sedangkan bahasa Arab untuk kamu adalah 'anta' atau 'antum' untuk jamak dan 'anti' untuk perempuan...<br />how come?<br />itulah misteri bahasa<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32151163-115693706312962108?l=heru-susetyo.blogspot.com'/></div>Heru Susetyo Blogshttp://www.blogger.com/profile/06846073363696882368noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-32151163.post-1155367759327630882006-08-12T00:21:00.000-07:002006-08-12T00:29:19.336-07:00Daripada di Indonesia digaji tujuh ratus ribu!Ini satu sisi kelam wajah dunia pendidikan di Indonesia. Salah seorang doctoral student yang saya temui di Kyoto Daigaku, dia mendapat beasiswa Monbusho sejak S-2 di Kyoto Univ dan seorang CPNS di satu PTN di Indonesia, mengaku bahwa dia tinggal dan studi bukannya karena senang. "Habis gak ada pilihan lain Mas!" "Kalau saya balik ke Indonesia terus bekerja di kampus sebagai CPNS saya cuma digaji Rp 700 rb, mana tahan Mas! Jadi saya gak ada pilhan lain, mendingan saya di Kyoto sebagai mahasiswa dengan beasiswa yang 'agak lumayan'. Dan teman saya ini tak terlalu salah. Bisa dibayangkan, seorang mahasiswa S3 berstatus CPNS saja masih khawatir dengan gaji di Indo, bagaimana pula dengan guru SD?<br />walhasil, banyaknya terjadi fenomena brain-drain, lulusan luar negeri yang enggan kembali ke Indo -bukan karena tak cinta tapi karena tak tahu mau bekerja dimana- lalu memilih bekerja di luar negeri dengan memanfaatkan keahliannya yang relatively lebih dihargai di LN suatu pilihan yang sulit tapi juga tak terlalu salah.<br />Maka, mari tinjau kembali pepatah : hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri...<br />karena, sekarang ini abad borderless...so orang berpikir dimana saja dia tinggal di dunia sama saja, sama-sama bumi Allah SWT and dia tetap well-connected to Indonesia...<br />CSEAS, 12 August 2006<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32151163-115536775932763088?l=heru-susetyo.blogspot.com'/></div>Heru Susetyo Blogshttp://www.blogger.com/profile/06846073363696882368noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-32151163.post-1154915946013353872006-08-06T18:33:00.000-07:002006-08-06T18:59:06.026-07:00Silent CommunityMasyarakat Jepang, khususnya yang saya lihat di Kyoto, Tokyo dan Mito tampaknya amat menyukai ketenangan. Coba saja lihat di jalan-jalan, tak banyak orang nongkrong, berkeliaran, ataupun ngobrol. Semua sibuk dengan dirinya masing-masing. Di kereta api misalnya, alih-alih ngobrol dengan sesama penumpang, mereka lebih disibukkan dengan membaca buku, bermain keitai (handphone) entah nge-email or SMS ataupun tidur. Yang masih kelihatan rame cuma anak sekolah. Biasanya anak2 sekolah perempuan suka jalan bareng-bareng dan ngobrol kiri kanan. Ajaibnya, ketika masuk gerbong kereta mereka jadi senyap. Sibuk dengan dirinya sendiri-sendiri. Kalau ada yang berisik biasanya orang asing (gaijin). Itu juga yang saya lihat di jalur Keihan, Kowata - Demachinayagi. Satu ketika masuklah empat orang berwajah dan berbahasa Arab. Mereka masuk dengan berisik lalu dengan santainya satu orang tidur-tiduran/ berbaring di gerbong yang rada sepi. Buat standar orang Jepang kelakuan tersebut gak pantas. Sedihnya, keempat pemuda tersebut berwajah dan berbahasa Arab yang simply associated as muslim.<br />Anyway, ketenangan ini juga tampak dari pilihan cara ber-handphone orang Jepang. Hampir selalu keitai mereka di set dalam format silent dan vibrator. Jarang ada ring tone yang macam-macam. Mereka juga gak biasa terima telpon di dalam kereta atau bus. Bandingkan dengan Indonesia...<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32151163-115491594601335387?l=heru-susetyo.blogspot.com'/></div>Heru Susetyo Blogshttp://www.blogger.com/profile/06846073363696882368noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-32151163.post-1154755133659740832006-08-04T22:03:00.000-07:002006-08-04T22:18:53.670-07:00Shalat Jum'at di KyotoTernyata Kyoto punya masjid juga. Tapi jangan bayangkan masjid disini seperti di Indonesia yang benar2 berbentuk masjid dengan kubah atau tower-nya. Masjid Kyoto sama seperti rumah atau ruko biasa. Terdiri atas dua lantai yaitu lantai satu dan lantai basement. Di lantai satu ada kantor/ sekretariat Kyoto Muslim Association berikut warung-nya. Sementara di lantai bawah untuk masjid. Pokoke, dari luar gak kayak masjid deh. Jalan di depan masjid pun cuma cukup untuk satu mobil. Tapi gak ngaruh kok, wong jama'ahnya kebanyakan mahasiswa Kyoto Univ yang kebanyakan kemana-mana naik sepeda (termasuk saya). Menariknya, di warung lantai satu dijual banyak barang2 dari Indonesia seperti indomie, sambal ABC, kecap ABC, plus daging halal. Kenapa begitu? karena jama'ahnya kebanyakan memang orang Indonesia. Maka, ketika shalat Jum'at bahasa yang dominan digunakan ya bahasa Indonesia disamping bahasa Jawa dan Sunda. Tapi khotbahnya pake bahasa Inggris lho. Karena disamping jama'ah Indonesia juga ada jama'ah dari Timur Tengah dan Asia selain Indonesia. Dari Jepang? ada beberapa. Ibu penjaga warung plus sekretariat adalah muslimah Jepang yang ramah. Dia pake jilbab dan bisa berbahasa Inggris (Eigo). <br />Alamat masjid ini : Riverside Kojinguchi 1F & BFMiyagakicho 92, Kawaramachi-Kojinguchi Agaru-Higashi-Iru, Kamigyo-ku Kyoto 606-0853<br /><br />memang, masjid ini kecil dan gak berasa sebagai masjid. But at least ini pertanda bahwa Islam dan muslim exist di Japanese cultural city ini. Moreover, disini kami bisa shalat Jum'at and silaturrahim dengan sesama muslim...<br />Muslim watashiwa !<br /><br />CSEAS Kyoto 5 August 2006<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32151163-115475513365974083?l=heru-susetyo.blogspot.com'/></div>Heru Susetyo Blogshttp://www.blogger.com/profile/06846073363696882368noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-32151163.post-1154651239105318122006-08-03T17:16:00.000-07:002006-08-03T17:49:23.646-07:00Kalau diundang Makan Berarti Bayar Sendiri<a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4099/3508/1600/Heru%20Susetyo.jpg"><img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4099/3508/200/Heru%20Susetyo.jpg" border="0" /></a><br />Di Jepang ada kultur yang menarik. Sebenarnya saya sudah tahu sejak lama tapi baru mengalami saat ini. Pengalaman pertama saya ke Jepang tahun 2005 (Kota Mito Ibaraki prefecture) tak banyak kisah undang mengundang makan (tabemasu). Barulah pada kedatangan kedua tahun 2006 ini (kali ini ke Kyoto, Kyoto prefecture), saya merasakannya. Beberapa kali ada undangan ataupun ajakan makan siang ataupun makan malam, dan kita mesti bayar sendiri makanan yang kita makan. Jadi, istilah 'traktir' tidak terlalu populer disini. You're responsible for your own cost. Kalau makanannya banyak (buffet) dan dihidangkan di meja yang sama, maka jumlah total pengeluaran dibagi rata semua orang yang makan. So, please beware with your own money. Memang rada serba salah, kalau nggak ikut undangan makan khawatir dianggap gak sopan. Tapi kalaupun ikut undangan, keinginan untuk ngirit-pun jadi sulit. Yang pernah saya alami ketika studi di Amrik tahun 2002 - 2003, disana kalau judulnya undangan makan biasanya si pengundang responsible untuk cost-nya. Kecuali kalau sejak awal disebut potluck that means anybody should bring their own food or beverages. Apalagi di Indonesia, kalau kita ngundang makan terus orang yang kita undang kita minta bayar sendiri...tunggulah kutukan dari masyarakat ! he he he<br />CSEAS Kyoto 4 August 2006<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32151163-115465123910531812?l=heru-susetyo.blogspot.com'/></div>Heru Susetyo Blogshttp://www.blogger.com/profile/06846073363696882368noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-32151163.post-1154649798484905172006-08-03T16:57:00.000-07:002006-08-03T17:51:53.033-07:00Kultur ber-sepeda ria di Jepang<a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4099/3508/1600/Heru%20in%20Bangkok%20grand%20palace3.jpg"><img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4099/3508/200/Heru%20in%20Bangkok%20grand%20palace3.jpg" border="0" /></a><br />Siapa bilang orang Jepang mobil mania? ternyata kita di'kibuli' orang Jepang selama ini. Hampir 80% (data berdasarkan feeling) mobil di Indonesia berasal dari Jepang, ternyata di Jepang sendiri orang lebih senang naik sepeda (minimal yang saya lihat di Kyoto city) atau naik kereta (either subway or a regular one). Tapi memang dari segi lalu lintas dan kontur alamnya amat mendukung. Enak sekali naik sepeda di Jepang, karena (hampir) semuanya juga naik sepeda. Therefore, please get rid off your gengsi and join the bicycle community !<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32151163-115464979848490517?l=heru-susetyo.blogspot.com'/></div>Heru Susetyo Blogshttp://www.blogger.com/profile/06846073363696882368noreply@blogger.com0